Jumat, 09 Juli 2010

Isra Mi’raj dan Civil Society

Isra mi’raj merupakan
peristiwa monumental
dalam kilasan sejarah
perjalanan Nabi Mu -
hammad. Isra mi’raj
menjadi sebuah perja -
lanan spiritual yang mena bal -
kan kembali spirit dakwah Na -
bi dalam mentransformasikan
ajaran Islam.
Nabi menyusuri perjalanan
dari masjidil haram (Makkah)
menuju ‘masjidil aqsho’ (Pa les -
ti na), kemudian Nabi naik
(mi’raj) menuju sidratul mun -
taha dan menghadap secara
lang sung kehadirat-Nya. Per -
te muan Nabi dengan Allah
ber langsung sangat khidmat.
Dan Allah menjadikan umat
Mu hammad sebagai umat ter -
baik untuk berbuat kebajikan
di muka bumi. Untuk menjadi
umat terbaik inilah, Allah
men syariatkan shalat lima
wak tu, sebagai basis tegaknya
kebajikan di semesta bumi. De -
mikian dijelaskan oleh Syaikh
Utsman al-Khaobary dalam
kitab Durratun Nashihin.
Ajaran shalat yang dibawa
Nabi, menurut Ali Ahmad al-
Jur jawi dalam Hikmatu al-Ta -
s yri’ wa Falsafatuhu, (1997: 70)
adalah sebagai tiang agama
(‘imad al-din), cahaya keya kin -
an (nur al-yaqin), dan pe nyem -
buh hati (syifa’al-su dur). Fung -
si transformatif sha lat ini di -
karenakan shalat bisa men ce -
gah manusia berbuat keji dan
munkar serta men jauh kan ma -
nusia dari nafsu kejelekan yang
telah menancap kuat dalam
dirinya. Shalat bisa melepas
bias-bias nafsu ter sebut, ka rena
bila manusia khu syuk
meng hadap Tuhan dalam sha -
lat, maka manusia akan mene -
mukan kesejatian hidup, dan
nafsu keserakahan akan segera
sirna dalam relung hidupnya.
Terbukti, ajaran shalat men -
jadikan peradaban Islam yang
dibangun Nabi semakin kukuh
dan berakar. Para sahabat Nabi
semakin teguh dalam berjuang
dengan Nabi untuk kemasla -
hat an kemanusiaan. Dalam
kon teks ini, spirit isra mi’raj
bisa menjadi ruh gerak bangsa
Indonesia untuk memba ngun -
kan kembali peradabannya
yang sedang runtuh dan ter -
seok di tengah masa transisi
sekarang. Reformasi yang ber -
jalan selama ini ternyata belum
memberikan sebuah harapan
baru dalam membentuk ta -
tanan kehidupan yang maju
dan modern seperti Madinah
yang dibangun Rasulullah ke -
tika itu. Reformasi sekarang
ha nya sebuah ilusi yang hanya
dimanfaatkan oleh para pah -
la wan kesiangan untuk men -
duduki jabatan dan kekuasaan.
Pergeseran Orde Baru me -
nuju Orde Reformasi mengan -
dung arti bahwa berbagai pe -
nindasan, tindak kekerasan po -
litik, radikalisme sosial, pe -
langgaran HAM, disintegrasi
sosial, kesenjangan sosial, dan
berbagai tindakan amoral dan
asosial lainnya yang semakin
subur dan menjadi-jadi dalam
negeri ini apalagi pascapemilu
2009, harus diubah menjadi ta -
tanan baru yang mampu me -
lin dungi dan menyejahterakan
masyarakat. Namun, dalam
per jalanannya, reformasi ter -
nyata belum mampu mewu jud -
kan impian masyarakat. Ber -
bagai agenda reformasi yang
didengung-dengungkan para
aktivis hanya sebuah ‘omelan’
un tuk meningkatkan nama pa -
ra aktivis reformis. Bahkan,
reformasi malah menambah
be ban kesengsaraan masyara -
kat, khususnya masyarakat ke -
cil, dan problem kehidupan se -
makin kompleks dan menje mu -
kan. Kondisi reformasi bangsa
yang terpuruk ini perlu kita
mi’rajkan menuju bangsa yang
mengedepankan keadilan, ke -
benaran, dan kedamaian.
Konsepsi tatanan kehidupan
yang dibangun Rasulullah ter -
jalin dalam sebuah ikat an for -
mal yang fenomenal sekali,
yang dikenal dengan Mitsaqul
Madinah (Piagam Madinah),
yang oleh sejarawan terke mu -
ka W Montgomery Watt di is -
tilahkan dengan Konstitusi
Madinah. Konstitusi ini, antara
lain, mengatur kehidup an di
Madinah yang dihuni dalam
berbagai suku, etnis, agama,
dan lain sebagainya. Dalam hal
agama misalnya, Rasulullah
tidaklah memaksakan dak -
wah nya kepada umat agama
lain. Kebebasan agama terja -
min penuh dalam madi nah.
Islam tidaklah mengintimidasi
dan mengonversi pemeluk aga -
ma lain, karena berdakwah da -
lam Islam adalah untuk me -
ning katkan kualitas ibadah
umat bukan untuk persaingan
mencari pengikut.
Isra mi’raj seharusnya bisa
hadir dalam meneguhkan high
society di Indonesia. High So -
ciety merupakan konsepsi ma -
syarakat yang tidak hanya
mengedepankan pembangunan
politik, namun pembangunan
bangsa secara menyeluruh,
baik aspek ekonomi, pendi dik -
an, kebudayaan, dan per adab -
an bangsa. Konsep high society
di negara kita juga dikenal de -
ngan masyarakat madani atau
civil society. High society se -
bagaimana dikonsepsikan para
pemikir, memiliki tiga ciri uta -
ma; pertama, adanya ke man -
dirian yang cukup tinggi dari
individu dan kelompok dalam
masyarakat, utamanya ketika
berhadapan dengan negara;
kedua, adanya ruang publik
yang bebas sebagai wahana
keterlibatan politik secara aktif
dari warga negara melalui wa -
cana dan praksis yang ber kait -
an dengan kepentingan publik;
ketiga, adanya kemampuan
membatasi kuasa negara agar
ia tidak intervensionis.
Rasulullah telah menela dan -
kan konsepsi tersebut dalam
pembangunan masyarakat Is -
lam di Semenanjung Arabia.
Membangun masyarakat yang
selalu mengedepankan ke adil -
an dan kebenaran adalah ke -
niscayaan. Nilai keadilan ini -
lah yang mampu mengangkat
citra sebuah negara. Kekuatan
hukum yang dibangun Rasu -
lullah tidaklah mendiskri mi -
nasikan warga negara, apakah
kaum Muslim, Yahudi, Nasra -
ni, dan lain sebagainya atau
apakah orang kecil, orang ja -
lanan, pejabat, bahkan keluar -
ga dekat sendiri. Semua di sisi
hukum adalah sama.
Sang putri Nabi, Fatimah
pun bila mencuri maka yang
akan memotongnya adalah Na -
bi sendiri. Umar bin Khattab,
sanga khalifah kedua, pun ti -
dak segan-segan meranjam pu -
tra tercintanya karena mela -
kukan perzinaan dengan se -
orang gadis desa yang murah -
an. Tetapi, apa yang terjadi di
negara kita? Hukum hanyalah
sebuah menara gading yang se -
lalu dibanggakan untuk men je -
rat orang yang tidak bersalah
namun malah untuk melang -
gengkan kekuasaan para pe -
ngecut dan pengkhianat nega -
ra. Dengan bangganya para pe -
jabat negeri ini mengatas na -
makan dirinya sebagai pahla -
wan bangsa yang akan meng -
en taskan krisis bangsa ini, pa -
dahal di balik itu, nilai-nilai ke -
adilan dan kebenaran tak sa tu
pun tertancap dalam dirinya.
Fondasi masyarakat madani
yang dibangun Rasulullah de -
mi kian jelas. Sudah barang ten -
tu di tengah bangsa yang me -
nangis sekarang ini, nilai-nilai
dan tatanan kehidupan yang
telah dibangun rasulullah perlu
transfer ke Indonesia. Indonesia
sangat butuh sekali, mengingat
berbagai tatanan yang dita -
warkan berbagai pi hak ternyata
telah gagal mem bangun pera -
daban maju dan modern. Dan
Rasulullah yang telah sukses
menerjemahkan berbagai kon -
sepsi yang dimi ki nya, perlu kita
realisasikan dan kita terje -
mahkan di Indo nesia. Sehingga
ke depan, bang sa ini mampu
modern dan mam pu bersaing di
tingkat global.

Muhammadun AS
Peneliti Center for Pesantren
and Democracy Studies
(Republika 9 Juli 2010 halaman 4)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar