Sabtu, 14 Agustus 2010

Apa itu Terorisme?

Ketika Amerika
Se rikat me nye -
rang Af ghanis -
tan pada 2001,
saya meng aju -
kan pertanyaan
yang saya kirimkan ke manamana.
Jika memang alasan
Amerika Serikat menyerang
Afghanistan adalah terorisme,
ada berapa teroris yang ke -
mungkinan bisa dihitung ber -
mukim di Afghanistan?
Apakah ada 10 orang? Ada
100 orang? Apakah malah lebih
besar dari itu, 10.000 orang?
Bah kan, apakah lebih besar la -
gi? Bagaimana dengan 100.000
orang?
Pertanyaan serupa saya
ulang kembali ketika Amerika
Serikat menyerang Irak pada
pertengahan tahun 2003. Jika
me mang alasan menyerang
Irak adalah ancaman terorisme
dan senjata pemusnah massal.
Ada berapa senjata pemusnah
massal yang tersimpan di Irak?
Ada berapa teroris yang ber -
naung di negeri itu?
Apakah ada 10 orang? Ada
100 orang? Apakah malah lebih
be sar dari itu, 10.000 orang?
Bah kan, apakah lebih besar
lagi? Bagaimana dengan 100.000
orang?
Asal tahu saja, saya akan
ber bagi angka tentang orangorang
yang mati di Afghanistan
dan Irak atas nama perang te -
rorisme. Di dua negeri itu, nya -
wa yang melayang sudah men -
dekati angka 1.000.000 jiwa.
Tepatnya, awal bulan Agustus
ini, setidaknya ada 919,967
nyawa yang telah melayang.
Tampaknya, jumlah itu masih
akan bertambah besar. Apakah
me mang sebesar itu jumlah
teroris yang ada di dua negeri
itu? Apakah sebanyak itu jum -
lah orang yang “harus dibu -
nuh” karena dituduh teroris?
Angka di atas, Saudara, be -
lum termasuk yang mening gal
di Pakistan dan perbatasan
Irak. Ada penduduk sipil, ada
anak-anak, ada orang-orang
lan jut usia. Bahkan, tentara
Pakistan, Afghanistan, Taliban,
bahkan Amerika sendiri.
Pertanyaan yang sama akan
saya ajukan untuk kasus Indo -
nesia. Wabil khusus kepada
De tasemen Khusus 88 dan ke -
po lisian. Begitu juga kepada
Ba pak Presiden Susilo Bam -
bang Yudhoyono yang sering
me rasa terancam dan menjadi
penanggung jawab dari sebuah
negeri Muslim terbesar di du -
nia bernama Indonesia.
Kira-kira, berapakah jum -
lah teroris yang mampu bapakbapak
bayangkan berada di In -
donesia? Apakah ada 10 orang?
Ada 100 orang? Apakah malah
le bih besar dari itu, 10.000
orang? Bahkan, apakah lebih
besar lagi? Bagaimana dengan
100.000 orang?
Sekadar catatan. Sepanjang
ta hun 2003 sampai dengan
2009, Detasemen Khusus 88
telah melakukan 500 lebih pe -
nangkapan tersangka yang
disebut teroris. Sebanyak 40
orang tertembak mati. Bahkan,
selama Januari hingga Mei, ada
58 kasus penangkapan dan 13
di antaranya tertembak mati!
Sa ya ulangi sekali lagi—kali
ini dengan huruf besar—MATI!
Mereka yang ditembak mati
itu tanpa melalui proses peng -
adilan. Tanpa melalui persi -
dang an. Bahkan, banyak sekali
menyisakan cerita keganjilan.
Perlu berapa orang lagi yang
harus mati dengan dalih te -
rorisme yang seolah tak ada
ha bisnya ini.
Di tengah persiapan kaum
Muslim menyambut dan me -
laksanakan ibadah pada bulan
suci Ramadhan, lagi-lagi Deta -
semen Khusus 88 menyajikan
kejutan. Ustaz Abu Bakar Ba’ -
a syir, yang berusia lebih dari 60
tahun, ditangkap dengan bebe -
rapa orang lainnya. Polisi men -
jelaskan, ustaz sepuh ini terkait,
mengetahui, bahkan mengizin -
kan, dan seterusnya mendanai
ke giatan-kegiatan pelatihan
terorisme di Aceh. Ini bukan tu -
duhan ringan, Sau dara!
Terkait, mengetahui, men -
da nai, mengizinkan, dan me -
ngontrol seluruh kegiatan te -
rorisme yang ada di Aceh bebe -
rapa waktu lalu. Ini benar-be -
nar besar!
Seberapa besar tenaga sim -
patisan terorisme yang bisa
diprediksi polisi? Apakah ada 10
orang? Ada 100 orang? Apa kah
malah lebih besar dari itu,
10.000 orang? Bahkan, apakah
lebih besar lagi? Bagaimana de -
ngan 100.000 orang? Perlu pe -
nangkapan dan penembakan
mati berapa kali lagi? Sampai di
mana habisnya isu terorisme ini?
Berdasarkan Undang-Un -
dang Terorisme, Polri diizinkan
menahan dan memeriksa se -
seorang 7 x 24 jam tanpa perlu
me ngeluarkan surat penang -
kapan. Berdasarkan undangun
dang yang sama, ustaz sepuh
yang mengabdikan diri ber -
dak wah itu ditangkap dan di -
tuduh. Tuduhan-tuduhan yang
dikaitkan benar-benar besar.
Kabareskrim Komjen Ito Su -
mardi mengatakan, proses yang
telah dilakukan sudah lama,
berbulan-bulan, bahkan lebih
dari setahun. Kapolri juga me -
negaskan bahwa tidak ada pe -
sanan dari negara mana pun,
ter masuk Amerika Serikat.
Bah kan, Jenderal Bambang
Hen darso Danuri meminta ma -
syarakat untuk tidak su’udzan
pada Polri.
Polri mengatakan, pihaknya
memiliki bukti-bukti kuat
yang dapat menunjukkan ke -
ter libatan Ustaz Abu Bakar
Ba’asyir dalam pelatihan mili -
ter kelompok teroris di Pegu -
nungan Jalin, Jantho, Aceh Be -
sar. Semua itu akan diungkap -
kan di pengadilan nanti.
Kita masih ingat semua,
pengadilan atas diri Ustaz Abu
Bakar Ba’syir sebelumnya, pu -
tus an pengadilan menetapkan
bahwa beliau ditahan bukan
atas dasar terorisme, tapi lebih
karena kesalahan administrasi,
seperti pemalsuan identitas dan
keterangan. Jika kesalahan ad -
ministrasi seperti ini mampu di -
kejar dengan sangat gigih, ba -
gai mana dengan kesalahan pro -
sedur atas kasus lumpur La pin -
do yang mengorbankan ribuan
warga Sidoarjo? Bagai mana de -
ngan kesalahan prose dur opera -
sional SNI dalam ka sus tabung
gas elpiji 3 kg yang menewaskan
lebih dari 30 orang? Bagaimana
dengan ke salahan prosedur ka -
sus Gayus yang melibatkan se -
luruh pung gawa penegak hu -
kum dari ke jak saan, hakim,
hingga ke polisian?
Jika semua ternyata terbukti
sebagai kezaliman dan keti -
dak adilan, saya berdoa kepada
Allah pada bulan suci Rama -
dhan ini agar diizinkan kelak
di depan pengadilan yang tidak
satu pun orang bisa berdusta
untuk bersaksi dan menuntut
para pemimpin yang telah
mem biarkan kezaliman terjadi.
Ya, Allah, izinkan saya meng -
gu gat para pemimpin yang te -
lah membiarkan ketidakadilan
menimpa rakyat yang di pim -
pinnya. Tidak saya tentang se -
orang ustaz, tapi juga tentang
orang-orang terzalimi dan me -
reka yang mengalami segala
ketidakadilan yang dilakukan
oleh negara dan para pemim -
pinnya.

Herry Nurdi
Jurnalis Muslim
(Republika 14 Agustus 2010 halaman 4)

Jumat, 13 Agustus 2010

Ramadhan dan Zikir

Puasa atau shaum
pa da Ramadhan
me rupakan satu da -
ri kewajiban yang
harus dilaksanakan
oleh umat Islam. Puasa meru -
pa kan bagian dari upaya men -
capai tingkat takwa. Hal ini
sebagaimana dijelaskan dalam
nash bahwa puasa sejatinya
telah diwajibkan kepada orang
beriman dan orang-orang sebe -
lum mereka agar menjadi insan
yang bertakwa.
Derajat takwa merupakan
dambaan bagi setiap Muslim.
Tingkatan ini tak mungkin di -
peroleh tanpa proses yang di -
na mis dalam melaksanakan
perintah dan menjauhi larang -
an Allah. Proses yang terusmenerus
itu hendaknya juga
diikuti dengan kesucian jiwa,
yang bermula dari zikir yang
senantiasa dilafalkan, teruta -
ma ketika selesai mendirikan
shalat. Salah satunya zikir tah -
mid—alhamdulillah—yang di -
baca sebanyak 33 kali.

Zikir tahmid
Lafal zikir tahmid berasal
dari Asma’ul Husna, yaitu alha
mid. Dari lafal itulah, se -
orang hamba diperintahkan
un tuk memohonkan sesuatu
melalui pesan yang terkandung
dalam lafal tersebut. Hanya
mi lik Allah Asma’ul Husna,
ber doalah dengannya (dengan
isi pesannya). Demikianlah
surah al-A’raf [7] ayat 180 yang
menjelaskan perintah Allah
kepada hamba-Nya.
Maka, isi pesan yang terkan -
dung dalam zikir tahmid (al -
hamdulilah) adalah ungkapan
pujian dan syukur seorang
ham ba kepada Sang Pencipta
semesta, yaitu berupa nikmat
iman dan Islam yang telah di -
ka runiakan kepada kaum Mus -
lim. Shaum (puasa) adalah ba -
gian dari nikmat Islam itu.
Shaum merupakan rukun Is -
lam keempat. Shaum menjadi
penentu keislaman seorang
ham ba dan takwa menjadi ci -
ta-citanya.
Pribadi yang bertakwa me -
ru pakan sosok hamba yang
pia wai dalam merencanakan
hidupnya dan pandai meran -
cang strategi guna menghadapi
hari esok, baik ketika di dunia
maupun pada hari pembalasan.
Saat itu, tiap-tiap amal umat
ma nusia akan diperhitungkan,
lalu diminta pertanggungja -
wab an darinya. Jika baik, sela -
matlah ia. Bila sebaliknya, ce -
lakalah dia.
Kemampuan merencanakan
dan merancang masa depan de -
ngan belajar dari masa lalu me -
rupakan salah satu ciri Muslim
yang bertakwa sebagaimana
disebutkan dalam wahyu
Allah, surah Alhasry. “Hai,
orang-orang yang beriman,
ber tak walah kepada Allah dan
hen daklah setiap diri mem per -
ha tikan apa yang telah diper -
buat nya untuk hari esok (akhi -
rat).” Artinya, hari esok—baik
di du nia maupun akhirat—
hen dak nya dipersiapkan se -
baik mung kin mulai dari hari
ini. Apa yang kita perbuat hari
ini me nentukan nasib kita pada
hari esok. Begitulah sosok
Mus lim yang berpribadi tang -
guh senantiasa mempersiapkan
diri agar semakin baik setiap
harinya.
Peradaban salam, sebagai -
ma na telah diteladankan oleh
Rasulullah di Kota Madinah,
ha nya akan terwujud dari
tangan-tangan kaum Muslim
yang memiliki kepribadian
yang tangguh. Melalui shaum,
akan lahir ketakwaan. Itulah
so sok pribadi tangguh diben -
tuk.
Mewujudkan kehidupan
ma syarakat yang penuh de -
ngan keselamatan, kedamaian,
dan kesejahteraan membutuh -
kan perenungan, perencanaan,
serta pelaksanaan yang dina -
mis (kontinuitas). Artinya,
poin-poin yang menjadi ciri
peradaban salam itu merupa -
kan upaya yang tak terlepas
da ri usaha yang senantiasa me -
nuju ke arah perubahan dan
Allah adalah maha menguasai
setiap perubahan.
Proses dalam perubahanperubahan
itu menuntut kebe -
saran hati untuk segera mengo -
reksi setiap sikap/keputusankeputusan
yang keliru atau tak
lagi relevan untuk kondisi serta
kebutuhan yang sedang diha -
dapi. Ini terkait dengan pesan
zikir tahmid yang bersyukur
atas nikmat Islam (shaum) bah -
wa seorang yang bertakwa
hen daknya segera bertobat dan
memohon ampun ketika jatuh
pada kekeliruan.
Muslim yang memiliki se -
mangat untuk senantiasa ber -
pi kir, bersikap, dan berperilaku
tobat kepada Allah merupakan
sosok pribadi yang memiliki
kehati-hatian dalam menen -
tukan sikap serta pilihan yang
hendak diambilnya. Artinya,
se belum ia benar-benar jatuh
pada dosa (perbuatan salah,
ke liru), ia telah lebih dulu me -
nyadarkan dirinya untuk bebe -
rapa hal.
Pertama, berpikir tobat
yang darinya kesalahan-kesa -
lahan bisa terlebih dahulu di -
antisipasi. Ia berpikir, apakah
perbuatan atau keputusan ini
merupakan perintah atau la -
rangan Allah. Kedua, seorang
mutaki (orang bertakwa) yang
cenderung pada tobat akan
me lahirkan sikap yang juga
mencerminkan kewaspadaan
agar tidak melakukan perbuat -
an yang telah ditetapkan seba -
gai larangan. Akhirnya, pikiran
dan sikap pencegahan dari
dosa itu diharapkan menjelma
dalam perilaku santun dan
baik. Namun, jika khilaf dan
tak sengaja berdosa, ia tak
segan segera memperbarui dan
mengubah dirinya (introspeksi,
tobat) menjadi lebih baik.

Ramadhan
Momentum Ramadhan hen -
daknya dijadikan satu ikhtiar
un tuk membentuk pribadi
tangguh (mutaki) yang darinya
ke mampuan mewujudkan ma -
sya rakat salam, yaitu satu ma -
syarakat yang penuh dengan
keselamatan, kedamaian, dan
kesejahteraan, dapat menjadi
kenyataan, sebagaimana nya -
tanya peradapan Madinah di
bawah kepemimpinan Rasu -
lullah SAW.
Sejatinya, puasa tak sekadar
berdimensi hubungan vertikal
hamba dengan Khaliknya. Tapi,
juga harus berdimensi ke -
manusiaan, yaitu sebuah sema -
ngat untuk mewujudkan per -
adaban agung ketika seluruh
masyarakatnya mampu mera -
sa kan kedamaian dan menda -
patkan kesempatan yang sama
dalam kesejahteraan. Ini
mung kin akan jauh panggang
dari api bila kaum Muslim tak
memiliki kerelaan untuk ber -
ba gi, bersikap saling memaaf -
kan, membimbing pikiran, si -
kap, serta perilaku dalam per -
buatan baik dan segera memo -
hon ampun jika melakukan
kesalahan.
Akhirnya, sifat-sifat demiki -
an itu ada dalam pribadi tang -
guh yang merupakan konse -
kuen si dari ibadah puasa (Ra -
madhan) yang kita laksanakan
setiap tahunnya, sebagaimana
janji Allah yang akan menem -
patkan orang-orang yang ber -
puasa pada derajat takwa. Se -
moga kita menjadi bagian dari
golongan ini. Wallahua’lam.

Julmansyah Putra
Ketua Litbang pada
Da’i Fi’ah Qalilah Jakarta
(Republika 13 Agustus 2010 halaman 4)

Rabu, 11 Agustus 2010

Agenda Nasional

Ibadah puasa Ramadhan
di Indonesia merupakan
“agenda nasional”,
meng ingat negara ikut
mengatur dan men du -
kung pelaksanaannya
hingga saat mudik syawalan.
Sebagaimana puasa, kita me -
miliki agenda nasional mende -
sak, berupa pendidikan karak -
ter serta penciptaan entrepreneur
muda yang jujur, tangguh,
dan berdaya saing. Tulisan ber -
ikut ini mencoba menghubung -
kan peran ibadah puasa de -
ngan pendidikan karakter dan
entrepreneurship.

Eksperimen marshmallow
Walter Mischel, seorang psi -
kolog terkenal dari Yale Uni -
versity, pada 1960-an melaku -
kan eksperimen marshmallow
terhadap anak-anak dalam hu -
bungannya antara “menunda
kesenangan” makan marsh -
mal low (sejenis permen) dan
pros pek sukses mereka pada
kemudian waktu. Walter meng -
gunakan berkotak-kotak per -
men yang ditaruh di depan
anak-anak amatannya. Mereka
ditaruh dalam ruang eksperi -
men dan dijanjikan akan diha -
diahi permen lebih banyak bila
mampu menahan diri.
Tanpa sepengetahuan mereka,
anak-anak tersebut mulai
di awasi. Beberapa anak yang
tidak sanggup menahan diri
akhirnya langsung memakan
per men di depan mereka, se -
dang kan beberapa anak yang
sanggup “menahan diri” pada
akhirnya mendapatkan permen
yang lebih banyak dari hadiah.
Walter kemudian terus meng -
ikuti perkembangan mereka
hingga 14 tahun kemudian saat
mereka memasuki usia dewasa.
Ternyata, ada perbedaan besar
di antara mereka dalam keber -
hasilan studi dan kariernya.
Anak-anak yang sanggup “me -
nahan diri” makan permen saat
eksperimen 14 tahun lalu ter -
nyata lebih berhasil dalam studi
mereka dibandingkan yang ti -
dak sanggup menahan diri. Me -
reka yang sanggup menahan diri
memiliki skor nilai tes SAT (se -
jenis ujian tertulis) lebih tinggi
sekitar 210 poin plus menunjuk -
kan sifat-sifat yang lebih positif,
misalnya lebih optimistis, lebih
kompeten, tidak mudah merasa
iri hati, serta jauh lebih mandiri.
Ibadah puasa, khususnya
puasa Ramadhan, sebagai sua -
tu bentuk ibadah ternyata ti -
dak hanya bermanfaat bagi ke -
sehatan fisik, tetapi juga sara -
na efektif untuk mengembang -
kan kesehatan mental bagi
anak bangsa. Hal tersebut ber -
hubungan dengan pendidikan
karakter untuk menghasilkan
insan-insan jujur, sportif, ber -
daya saing, dan mandiri.
Dalam hubungannya de -
ngan pendidikan karakter ter -
sebut, eksperimen marshmal -
low membuktikan bahwa pua -
sa dapat menjadi sarana efektif
bagi terciptanya anak bangsa
yang visioner dan berkarakter.
Dalam eksperimen tersebut,
be berapa anak sampai menggi -
git-gigit mejanya sebagai cara
menahan diri agar mendapat -
kan hadiah permen yang dijan -
jikan. Kondisi ini menunjuk -
kan bahwa mereka mempunyai
bakat “visioner” tentang ba -
gai ma na menimbang antara
ke senangan sesat makan per -
men dan peluang kesenangan
mendapatkan permen lebih
banyak bila mampu bertahan.
Sebagai kompensasi, mereka
meng alihkan aktivitasnya de -
ngan cara menggigit meja se -
bagai analog bahwa mereka
mem punyai olah perspektif
yang baik.
Visioner dan kemampuan
me mandang masalah dari be be -
rapa sisi (perspektif) adalah
modal dasar karakter unggul
seorang entrepreneur. Jika ke -
ung gulan ini dihubungkan de -
ngan tingkat entrepreneurship
seseorang, bisa dikatakan bah -
wa puasa akan mampu mem -
bentuk karakter entrepreneur
suatu bangsa. Jika ada 30 per -
sen dari 220 juta penduduk In -
donesia yang masuk kategori
anak-anak (data sensus 2000)
dan apabila kita mampu meng -
implementasikan pelatihan ka -
rakter melalui puasa, akan di -
per oleh 66 juta calon anak
bang sa yang akan mampu di -
bentuk sebagai entrepreneur
masa depan, baik mereka yang
menjadi intrapreneur (profesio -
nal di perusahaan), sociopreneur
(entrepreneur di bidang pember -
dayaan masyarakat), govern -
ment preneur (entrepreneur di
bidang pemerintahan), hingga
bisnis entrepreneur. De ngan
asumsi 10 persen dari me reka
me nekuni bisnis entrepreneur,
ada 6,6 juta calon pebis nis
andal, jujur, dan beretika yang
akan memajukan pereko no mian
bangsa. Angka 6,6 juta ini jauh
melampaui syarat mi nimal yang
ditetapkan McLel land, pakar
psikologi pendidik an. Dia me -
nyatakan bahwa suatu bangsa
akan maju apa bila dua persen
dari pendu duk nya berprofesi se -
bagai en tre preneur bisnis.
Makna puasa lainnya
Tidak hanya mengem bang -
kan karakter entrepreneur dari
sisi soft skill, puasa juga meng -
a jarkan para entrepreneur un -
tuk meniru sistem manaje men
berbasis kinerja, mengingat ha -
nya sistem insentiflah yang
mam pu menggugah kesadaran
karyawan hingga manajer un -
tuk ikut berpartisipasi me ngem -
bangkan perusahaan atau pun
mengembangkan pe la yan an
yang baik di bidang pemerin -
tahan.
Sistem insentif progresif se -
benarnya adalah adalah hak
paten dari Allah SWT untuk
kita tiru. Mari, kita renungkan
bagaimana puasa telah dide -
sain oleh-Nya melalui tahap -
an-tahapan dari “bisnis pro -
ses” yang sempurna, mulai
bulan persiapan Sya’ban, ek -
sekusi proses pada bulan Ra -
madhan, hingga periode “sa -
ling menghalalkan” kekhilafan
pada bulan Syawal.
Cobalah kita hayati, bagai -
mana puasa didesain oleh-Nya
melalui tahapan sepuluh hari
pertama, sepuluh hari kedua,
dan sepuluh hari ketiga dengan
reward pahala yang semakin
meningkat, khususnya saat
ma lam-malam ganjil pada
sepuluh hari terakhir. Yang ter -
akhir, puasa Ramadhan mem -
berikan pesan bagi kita untuk
berpikir selaras antara kegiat -
an ibadah, baik ibadah vertikal
(hablum minallah) maupun
ibadah horizontal (hablum mi -
n an nass).
Berpikir selaras, dalam arti
integratif dan holistik adalah
rahasia sukses entrepreneur
ma sa depan. Nikmat dan pela -
jaran apa lagi dari-Nya yang
akan kita dustakan? Semoga
Ramadhan kali ini akan mem -
bawa kita berpikir dan bertin -
dak sesuai pesan-Nya.

Priyo Suprobo
Rektor ITS
(Republika 11 Agustus 2010 halaman 4)

Puasa dan Kegalauan Modernitas

Masyarakat mo dern
biasa nya disebutse
but sebagai ma -
sya ra kat yang me -
milki pandangan jauh ke de -
pan, mempunyai renca na ma -
tang dalam menghadapi masa
depan, menghargai kerja, dan
hi dup dengan waktu penuh di -
siplin. Ternyata, dari semua ci -
ri yang ada pada masyarakat
mo dern itu, tak ada satu pun
yang bertentangan dengan nilai
dan norma Islam.
Sebab, ciri pertama dan ke -
dua dari masyarakat modern
itu telah diperintahkan Al -
lah dalam Surah Al-Hasyr ayat
18: “Hai orang-orang yang ber -
iman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri mem -
buat rencana untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepa -
da Allah, sesungguhnya Alllah
Maha mengetahui apa yang ka -
mu kerjakan.
Demikian pula ciri ketiga dan
keempat, Allah telah meng -
ingatkan manusia dalam Alqur -
an Surah Al-Ashr ayat 1-3: Demi
masa; Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugi -
an; Kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal
saleh, dan saling menasehati supa -
ya menaati kebenaran dan saling
menasihati dalam kesabaran.”
Sayangnya, semua nilai dan
norma dalam Alquran itu be -
lum semuanya dapat kita prak -
tikkan dalam kehidupan se -
hari-hari. Sebagai manusia
yang barangkali sudah menjadi
modern, semestinya manusiamanusia
di negeri ini mampu
bangkit dari segala kegalauan
dan ketidakpastian. Kegalauan
tentang ketidakpastian ke ma -
na arah perjalanan Tanah Air
ini mesti menuju.
Ramadhan dalam suasana
mo dern tak menghalangi kita
un tuk dapat meningkat kan ko -
munikasi dengan Al lah SWT
dan memantapkan jabatan si -
la turahim antarsesama umat
manusia. Komunikasi dengan
Allah SWT juga akan berpe -
ngaruh pada komunikasi de -
ngan manusia. Seharusnya, se -
makin kita yakin kepada Allah
SWT, semaikn baik hubungan
kita dengan sesama manusia.
Jika mengambil contoh da -
lam kehidupan berumah tang -
ga, kebiasaan dalam bulan pu -
a sa, ketika antara suami dan
is tri atau orang tua dan anak
da lam sebuah keluarga, sejak
dari sahur menampakkan ke -
ber samaan. Sahur bersama se -
lama satu bulan, juga dapat
menutup kegersangan hubung -
an dalam satu tahun antara
orang tua dan anak juga suami
dan istri. Lebih baik lagi, jika
se lama bulan puasa, dalam se -
buah keluarga juga membiasa -
kan untuk salat secara jama -
ah. Salat jamaah di masjid ter -
dekat atau di rumah sendiri,
sung guh amat penting dilaksa -
na kan setiap hari selama Ra -
ma dhan.
Begitu pula hubungan di
luar kehidupan rumah tangga.
Kita saling memahami bahwa
saat ini adalah bulan puasa.
Bulan bagi manusia berislam
yang sadar akan ada keber -
kahaan. Namun, kebersamaan
itu dimanfaatkan sebaik-baik -
nya dan dikembangkan pada
waktu setelah Rama dhan. Bia -
sanya, di luar bulan pua sa, ka -
rena terbentur kesibukan dan
jadwal kerja masing-masing,
kita jadi sangat susah meng a -
tur waktu untuk mera jut ke -
ber samaan dan kepedu lian,
baik di dalam keluarga mau -
pun kehidupan bermasyarakat.
Apalagi jeratan dan kegalauan
modernitas sering kali membu -
at kita lupa pentingnya keber -
sa maan dan kepedulian.
Orang yang berpua sa seyo -
gia nya mempunyai disiplin diri
yang tinggi. Hal itu tampak pa -
da ketaatan untuk mema suki
waktu imsak dan melakukan
salat sesuai dengan jadwal
yang berlaku. Orang lain juga
tidak mengetahui betul apakah
seseorang benar-benar puasa
atau tidak, kecuali diri sendiri
dan Allah SWT. Artinya, iba -
dah puasa mempunyai nilai
dan norma yang benar-benar
modern jika diterapkan, tidak
ha nya pada bulan Rama dhan,
tapi juga dalam kehidup an se -
hari-hari.

Pembelajaran puasa
Selain umat Muslim, pua -
sa juga telah diamalkan oleh
pelbagai kaum dan bangsa di
seluruh dunia. Tujuan utama
mereka berpuasa ialah dapat
membuat tubuh sehat. Ini se suai
dengan apa yang telah di sya -
riatkan oleh Allah bahwa puasa
merupakan ibadah yang amat
baik untuk kesehatan fi sik,
men tal, rohani, dan jas ma ni.
Banyak orang yang non-
Mus lim telah mulai mengamal -
kan puasa untuk kesehat an
(the rapeutic fasting). Ba nyak
pu la buku-buku dan opiniopini
di internet yang telah di -
sebarluaskan untuk menjelas -
kan kebaikan berpuasa dari
sisi kesehatan. Seperti dalam
informasi di beberapa literatur,
ahli filsafat dan kedokteran
Ibnu Sina pernah mengobati
pasiennya dengan menyuruh
mereka berpuasa. Socrates,
Pla to, Aristoteles, dan Pytha -
goras juga mengamalkan iba -
dah puasa untuk meningkat -
kan kualitas fisik dan mental
agar dapat berpikir serta men -
cetuskan ide-ide yang bernas.
Begitu pula Mahatma Gan -
dhi, pejuang kemerdekaan In -
dia yang terkenal sebagai peng -
amal puasa. Sastrawan be sar
Rusia, Leo Tols toy, pe nga rang
dari Perancis Francois Voltaire,
dan pengarang Aus tria Franz
Kafka, dalam infor masi itu
men duga bahwa mereka men -
jadikan puasa sebagai amalan
dalam kehidupan me reka.
Menurut Profesor Arnold
Ehret dari Jerman, puasa yang
tepat mampu membuat fisik
awet muda, menguatkan men -
tal dan spiritual seseorang. Me -
nurutnya, puasa adalah ibu
kun ci kepada evolusi dan pe -
ngem bangan spiritual, teruta -
ma di zaman yang penuh de -
ngan pancaroba ini.
Dalam konteks keindo nesia -
an dan kekitaan, bila Rama -
dhan secara serius dilaksana -
kan oleh umat Muslim di tanah
air, tak salah jika kita berharap
bahwa sifat dan jiwa kekeluar -
gaan, ukhuwah, serta sambung
rasa menjadi pengingat, mana
langkah dan kebijakan peme -
rintah yang salah dan mana
yang benar. Yang salah diingat -
kan dan diberi ganjaran hu -
kum yang adil dan yang benar
sama-sama kita perjuangkan.
Meskipun kesadaran kita
sering dijejali oleh berbagai
kemajuan ilmu pengetahuan
modern, tetap harus memper -
juangkan martabat kemanusia -
an dan keadilan bagi jutaan
rak yat di negeri ini. Sebab, hik -
mah Ramadhan yang berhasil
adalah perubahan berdampak
nyata dalam kehidupan seharihari
dan orang lain.
Misalnya, orang yang sete -
lah berpuasa bersedia mereformasi
keberagamaan nya, me -
lakukan penyegaran hubungan
antarmanusia, bersedia saling
menolong, serta mampu mera -
sakan penderitaan orang-orang
di sekitarnya. Dan Allah SWT
pernah berfir man dalam Su rah
Ali Imran ayat 112, “Mereka
akan diliputi penderitaan di ma -
na saja mereka berada, kecuali
kalau selalu mempunyai dua
komunikasi, yaitu dengan Allah
dan dengan manusia. ” Walla -
hu’alam.

Tarmizi Taher
Ketua Dewan Pembina Yayasan
Dakwah Malaysia-Indonesia
(Republika 11 Agustus 2010 halaman 4)

Sabtu, 07 Agustus 2010

Nilai Kemerdekaan

Sebentar lagi, kita
me masuki usia
ke-65 tahun ke -
mer dekaan Re -
pub lik Indonesia.
Pada usia ini,
tidak serta-merta telah mem -
bawa rakyatnya dalam kehi -
dupan adil dan makmur dalam
memenuhi hajat kehi dupan
yang layak dalam pereko -
nomian.
Buktinya, sebagian besar
rakyat di negeri ini mengeluh
semakin beratnya beban hidup
yang harus dipikul setiap ke -
luarga. Harga kebutuhan po kok
menjadi mahal: telepon, lis trik,
air bersih, bahan bakar minyak,
beras, cabai, bawang, telur, gula,
dan barang kebu tuhan seharihari
untuk kon sumsi rumah
tangga. Biaya pen didikan sering
kali tidak ter jangkau, pelayan -
an kese hatan menjadi barang
mewah, dan celakanya pengha -
silan ma syarakat tidak lantas
mening kat.
Gejala ini tampak dihadapi
rakyat kecil dalam kehidup an -
nya sehari-hari. Ibu rumah
tang ga emosinya menjadi me -
le dak-ledak karena uang be -
lanja satu bulan telah habis
pada minggu pertama. Si ba -
pak sebagai kepala rumah
tang ga menjadi pusing ‘tujuh
ke liling’ karena semakin sulit
mendapatkan penghasilan
tam bahan. Sementara itu, si
anak menjadi minder dengan
lingkungan formal yang mesti
digelutinya, yaitu dunia se -
kolahan, sebagai akibat korban
‘kekerasan perekonomian ke -
luarga’ yang tidak memadai.
Dalam tataran perekono mi -
an bangsa, kita dihadapkan
sua sana pesimistik dan ke -
tidakmenentuan. Semua ini
aki bat kemandirian bangsa kita
dalam percaturan ekonomi
antarnegara di dunia tidak
kun jung mandiri, bahkan ter -
lal u kentara di bawah bayangba
yang negara tertentu yang
sta bilitas perekonomiannya ter -
bukti tidak setangguh yang di -
duga. Manakala negara ter -
sebut goyang karena insta bi -
litas perekonomian di dalam
ne gerinya atau imbas pereko -
nomian global yang terjadi pa -
da negara pesaingnya; negara
ter sebut mengalami sedikit kri -
sis dan langsung berdampak ke
negeri kita. Kondisi ini jelas ti -
dak menguntungkan negara se -
perti Indonesia yang harus me -
ngu rus kebutuhan rakyat nya
se banyak 230 juta jiwa bila ki -
ta terus-menerus ketergan tung -
an pada satu negara pe nyangga
dalam perekonomian. Mestinya,
prinsip bebas aktif pada politik
luar negeri kita seperti yang
dikatakan Bung Hatta tempo
dulu menjadi prak tik dalam
menjalankan hu bungan per -
eko nomian an tar bangsa di
dunia sekarang ini.
Demikian halnya dengan
kemandirian di bidang energi
yang sebenarnya Indonesia
memiliki kemampuan untuk
memanfaatkan sumber energi
yang ada atau mengupayakan
sum ber energi baru, seperti
bio gas, ethanol, dan nuklir. Be -
lum termanfaatkannya secara
mak simal sumber energi yang
ada disebabkan kemandirian
di bidang eksplorasi dan eks -
ploitasi bahan tambang dan
migas belum dilakukan oleh
kemampuan dalam negeri. Hal
ini membuat energi kita ba -
nyak dikelola oleh kekuatan
asing dan kita hanya kebagian
da lam persoalan distribusi.
Kon disi ini jelas tidak me ng -
untungkan untuk menjawab
kebutuhan energi yang besar
di negeri ini.
Ada lagi yang riskan dalam
konteks pemandirian bangsa
ini ke depan, yaitu keman diri -
an finansial. Mata uang rupiah
se bagai nilai tukar yang digu -
na kan semakin rendah bila di -
hadapkan dengan mata uang
asing. Ketergantungan kepada
dolar sebagai mata uang dalam
perdagangan internasional
telah membuat kerugian ter -
sen diri. Bila dolar melonjak,
hal itu berimbas langsung da -
lam persoalan neraca pem -
bayar an yang harus di tang -
gung negara, termasuk ber -
lipat nya jumlah utang. Bila
kini issue redenominasi (pe -
nyederhanaan nominal rupiah)
digulirkan untuk menjaga sta -
bilitas nilai tukar rupiah ter -
hadap melonjaknya hargaharga
dan dikhawatirkan in -
fla si yang tidak terkontrol, se -
sungguhnya hal itu belum
men jawab kemandirian di bi -
dang finansial negara ini.
Kemerdekaan yang kita
enyam selama ini ternyata ti -
dak serta-merta melepaskan
rasa takut dan kekhawatiran
menghadapi masa depan. Buk -
tinya, banyak masyarakat kita
dihantui oleh rasa takut dan
khawatir menghadapi hi dup
masa kini, apalagi masa depan.
Fenomena sosial ini meru -
pakan gambaran yang terjadi
di masyarakat karena dihantui
tidak jelasnya masa depan dan
menipisnya keimanan sese -
orang. Nilai-nilai agama pun
ti dak mampu lagi menjadi te -
rapi untuk mengatasi rasa ta -
kut yang dialaminya.
Rasa ta kut dan khawatir
meng hadapi hidup ke depan
memang tidak dapat disalah -
kan kepada orang tersebut,
tapi lebih diakibatkan kegagal -
an negara ini dalam mengelola
rasa keadilan yang te cermin
dalam penegakan hu kum yang
menampakkan ke tidakjelasan
di sana-sini. Hal ini ditandai
dengan fenomena yang dikenal
masyarakat se ka rang ini
dengan praktik mafia hukum
di lembaga-lembaga penegak
hukum (kejaksaan, kepolisi -
an,dan pengadilan).
Melihat kehidupan masya -
rakat yang nyata dihadapi da -
lam kesehariannya, tidak ber -
lebihan bila kemerdekaan yang
diraih bangsa ini selama 65 ta -
hun dengan penuh pengor ban -
an belum memberi ke mer de ka -
an yang diharapkan. Apa sebe -
narnya arti kemerdekaan untuk
rakyat Indonesia seka rang ini?
Tidak lain adalah pem bebasan.
Pembebasan dari im pitan pe r -
ekonomian ke luar ga, pembe -
bas an dari rasa ke adil an, pem -
bebasan dari rasa ta kut, dan
pembebasan dari ke tidak man -
diri an. Sebenar nya, gong pem -
bebasan sudah di suarakan oleh
gerakan ma hasiswa dan kaum
reformis 12 tahun yang lalu,
yaitu saat reformasi bergulir
pada tahun 1998.
Partai Bulan Bintang meru -
pakan partai politik Islam yang
berkiprah sejak awal reformasi
dan mengusung perubahan
konstitusionalisme sebagai fon -
dasi bergulirnya reformasi
yang sistemis.
Namun, se ma ngat para
pelaku dan pe ngelola peraturan
dan undang-undang yang ber -
laku telah diracuni oleh se -
mangat mem per tahan kan dan
memanfaat kan ke kuasa an yang
membuat semua aturan men -
jadi tidak bermakna dalam
upa ya me mak nai se mangat
pem bebasan yang menjadi
amanat negeri ini.
Meskipun kenyataan politik
saat ini, khususnya Partai Bu -
lan Bintang, berada di bawah
kekuasaan, tidak menjadikan
Partai Bulan Bintang surut dari
sikap dan karakter per juang -
annya.
Bahkan, dengan menya dari
sepenuhnya bahwa makna
kemerdekaan bagi rakyat dan
negeri ini adalah makna pem -
bebasan, Partai Bulan Bin tang
pun memaklumatkan dan ber -
ikh tiar sekuat tenaga untuk
menjadi salah satu ke kuatan
baru yang menyua ra kan secara
lantang semangat pem bebasan
baru.

MS Kaban SE, MSi
Ketua Umum PBB
(Republika 7 Agustus 2010 halaman 4)

Rakyat Pejuang Energi Sejati

Akhir-akhir ini, kita
dikejutkan oleh ma -
rak nya pem beritaan
soal ledakan LPG.
Hampir tiap hari, mata dan te -
linga kita dijejali oleh pem be -
ritaan tersebut. Kondisi ini
sung guh memprihatinkan se -
kaligus menuai simpati. Bagi
sa ya, rakyat Indonesia yang be -
ralih menggunakan LPG se -
sungguhnya adalah pahlawan
energi sejati.
Betapa tidak, bila ditelisik
ke belakang, rakyat Indonesia
sudah berulang kali mem buk -
tikan kedigjayaannya. Kemer -
dekaan yang diraih oleh In -
donesia adalah salah satu buk -
ti. Dengan bersenjatakan te -
kad, semangat, dan bambu
run cing, mereka sanggup me -
runtuhkan kekuasaan penjajah
Belanda. Rakyat pula yang ber -
hasil menumbangkan rezim
Or de Lama, Orde Baru, dan
me nggulirkan reformasi ham -
pir di setiap aspek peme rintah -
an. Saat ini, rakyat pula yang
me megang kunci kesuksesan
Program Konversi ke LPG di
bumi pertiwi.
Program Konversi dari mi -
nyak tanah ke LPG yang di -
gulirkan oleh pemerintah dan
Pertamina merupakan sebuah
terobosan penting yang tak
bisa dipandang sebelah mata.
Sesungguhnya, program ini
adalah ‘senjata’ mujarab agar
rakyat Indonesia bisa menik -
mati energi dengan harga mu -
rah dan bersih sekaligus me -
numbangkan kekuasaan para
pendukung BBM yang me nye -
babkan mahalnya harga BBM
di negeri ini.
Tercatat, berkat Program
Kon versi ke LPG, negara tak
per lu lagi menyubsidi 7 juta kl
mi nyak tanah per tahun. Arti -
nya, pemerintah berhasil me -
nye lamatkan uang rakyat se -
kitar Rp 17 triliun per tahun.
Bi la kelak Program Konversi
di rampungkan, pemerintah
bah kan bisa berhemat hingga
Rp 21 triliun per tahun karena
se banyak 8 juta kl minyak ta -
nah tak lagi jadi beban.
Inilah sumbangsih nyata
dari para ibu rumah tangga
yang telah beralih meng -
gunakan LPG se hingga se -
banyak Rp 21 triliun ua ng
rakyat terselamatkan. Jumlah
ini sangatlah besar bila di -
bandingkan deviden yang di -
setorkan Pertamina pada tahun
2009 yang hanya menca pai Rp
13 triliun.
Keberadaan para pendu -
kung BBM, dalam hemat saya,
me rupakan penjajahan dalam
arti yang sesungguhnya. Aki -
bat sistem yang mereka cip ta -
kan, berpuluh-puluh tahun
rak yat Indonesia dipaksa un -
tuk membeli energi (BBM) de -
ngan harga mahal.
Itulah sebab In donesia ter -
lalu miskin mem bangun infra -
struktur karena uang rak -
yatnya habis tersedot untuk
membeli energi dengan harga
mahal. Buruknya, infra struk -
tur berimbas pada buruk nya
ki nerja birokrasi sehingga
menyuburkan iklim suapmenyuap
dan KKN.
Di atas segalanya, saya se -
lalu percaya pada kekuatan
rakyat. Dengan membangun
awareness dan memberdaya -
kan rakyat terkait dengan
penggunaan LPG yang benar,
saya yakin, insiden kecelakaan
LPG akan berhenti dengan
sen dirinya. Imbasnya, gerakan
penggunaan LPG kembali me -
nguat seiring dengan ber tam -
bahnya saving negara sehingga
rakyat pun bisa menikmati se -
kolah murah, bisa berobat ke
rumah sakit, punya rumah, dan
sebagainya. Untuk mewujud -
kan itu semua, pemerintah ha -
rus memulai “Kampanye Da -
pur Se hat” secara konsisten
dan besar-besaran.
Adapun yang dimaksud da -
pur sehat bukanlah dapur yang
mewah, melainkan dapur se -
derhana yang berventilasi baik.
Dapur yang di dalamnya me -
ngalir bebas udara dan efektif
mencegah ledakan LPG. Pasal -
nya, gas yang keluar dari se -
lang atau tabung yang bocor
sekalipun akan langsung ter -
bawa angin sehingga tak lagi
berbahaya. Agar bisa men jang -
kau hingga ke seluruh pelosok
pedesaan; para ketua dusun,
kepala desa, ketua RT dan RW,
hingga jajaran PKK diminta
untuk mengecek dapur setiap
warganya sekaligus memberi
pengarahan secara intensif ten -
tang bagaimana merawat ke -
bersihan tabung, kompor,
selang gas, dan seisi dapur.
Secara paralel, pemerintah
harus segera memulai gerakan
penyadaran akan pentingnya
peran rakyat dalam menyuk -
seskan Program Konversi ke
LPG. Pemerintah, terutama
Per tamina, sepatutnya lebih
menghargai pengabdian ma -
sya rakat pada negara yang me -
reka laksanakan dengan cara
menggunakan LPG untuk me -
masak. Merekalah pejuang
pem bebasan energi sejati. Di
ta ngan mereka pula, mafia
BBM akan runtuh. Maka, su -
dah sepantasnya, pemerintah
mengapresiasi para korban
ledakan LPG dengan menye -
butnya sebagai pahlawan
energi dan menjamin kehidup -
an yang layak untuk keluarga
mereka. Pemerintah secara
nyata harus menumbuhsubur -
kan semangat untuk menjadi
pahlawan energi bagi setiap
rakyatnya, tanpa memandang
jenis kelamin, usia, pendidikan,
pe kerjaan, atau agama dan
suku bangsa.
Di samping itu, Pertamina
harus memaksa para pengu -
saha SPBE dan agen untuk me -
laksanakan program Gas Way
secara konsisten. Program Gas
Way ini didesain untuk men -
cegah beredarnya tabung LPG
kedaluwarsa, abal-abal, atau
cacat.
Dengan mengintensifkan
pemeriksaan terhadap setiap
tabung LPG yang masuk ke
SPBE, saya yakin, tabung-ta -
bung LPG yang tidak ber -
standar SNI akan terjaring
dengan sendirinya. Selanjut -
nya, Pertamina harus segera
mem perbaiki tabung-tabung
LPG berkualitas rendah ter -
sebut agar sesuai dengan SNI.
Itu semua bermuara pada
terjaminnya keamanan dan ke -
selamatan masyarakat peng -
guna LPG.
Terakhir, Pertamina selaku
pelopor bisnis LPG seharusnya
aktif membantu pemerintah
menciptakan regulasi LPG. Hal
itu penting dilakukan agar
negara bisa melindungi rakyat
dan menyediakan infrastruktur
yang benar dan sesuai dengan
standar safety LPG di bumi
Indonesia.

Wahyudin Akbar
Pemerhati Migas
(Republika 7 Agustus 2010 halaman 4)

Jumat, 06 Agustus 2010

Tragedi Akhlak

Akhir-akhir ini,
Presiden Su si -
lo Bambang
Yudho yono
sa ngat galau
ter hadap kon -
disi yang dialami Bangsa In do -
nesia dalam hal moral, etika,
dan akhlak bangsa. Pernya -
taannya hampir berturut-turut
disampaikan dalam tiga ke -
sem patan, seperti ketika meng -
hadiri acara peringatan Isra
Mikraj pada 9 Juli, acara Hari
Anak Nasional pada 23 Juli,
dan terakhir Pembukaan Mu -
sya warah Nasional (Munas)
Majelis Ulama Indonesia pada
25 Juli 2010.
SBY men sinya lemen bahwa
kondisi akhlak bangsa sudah
sampai pada ting kat yang
mengkha watir kan. Bahkan,
dengan tegas, SBY menyatakan
bahwa kon disi akhlak bangsa
ini sudah mencapai tingkat
tragedi yang mengerikan. Ka -
rena itu, SBY dalam ke -
sempatan berbicara di hadapan
para ulama pada acara Munas
VIII dan Milad ke-35 Majelis
Ulama Indonesia (MUI) ber -
pidato dengan judul “Saatnya
Indonesia Bang kitkan Kembali
Peradaban Is lam” yang meli -
puti tiga hal pen ting.
Pertama, kebangkitan kem -
bali peradab an Islam di In -
donesia terkait dengan arah
mo dernisasi nega ra. Kedua,
tra gedi akhlak yang melanda
se bagian masyarakat yang be -
rupa perilaku yang sangat me -
nyimpang dan menodai nilaini
lai agama serta kesusilaan
yang dikaitkan dengan penye -
bab utama. Ketiga, masalah
kebebasan dan hak yang tanpa
batas.
Kegalauan SBY memang cu -
kup beralasan. Pasalnya, potret
bangsa ini setelah memasuki
era reformasi menunjukkan
ting kah laku yang jauh me -
nyimpang dari nilai-nilai mo -
ral, kesusilaan, dan keaga ma -
an. Padahal, rakyat dan bangsa
Indonesia merupakan penga -
nut Islam terbesar di seluruh
dunia.
Seharusnya, nilai-nilai ajar -
an Islam yang bersumber dari
kitab suci Alquran dan su nah
Rasulullah terefleksi da lam
kehidupan dan perilaku bang -
sa yang santun dan ber adab.
Nilai-nilai spiritual ke aga -
maan, seperti tauhid, akh lak
karimah, dan rahmatan lil ala -
min yang seharusnya men jadi
sumber inspirasi perilaku
bangsa ini, telah tergeser de -
ngan serbuan nilai-nilai de -
mok rasi ala Barat, neoliberal
(ke bebasan tanpa batas), ka pi -
talistik, dan materialistik yang
sekuler.
Dalam sistem pemerintahan
presiden RI pertama, Soekarno
juga telah mensinyalemen infil -
trasi kebudayaan Barat ter -
hadap karakter bangsa ini. Ma -
ka itu, tema pembangunan
yang dikumandangkan terke -
nal dengan “Nation and Cha -
rac ter Building” melalui pene -
rapan kebijaksanaan mem ben -
dung segala bentuk peradaban
yang bersumber dari Barat,
mu lai dari kebudayaan, eko -
nomi, dan ideologi negara yang
berorientasi pada kepribadian
bangsa melalui sistem Demok -
rasi Terpimpin.
Tampaknya, karakter bang -
sa saat ini benar-benar telah
terkontaminasi oleh nilai-nilai
kebebasan tanpa batas serta
pola hidup individual mate -
rialistik, sekuleritik, dan ka -
pitalistik yang telah mewarnai
perilaku bangsa ini, khususnya
di kalangan elite politik yang
justru mengemban amanah da -
lam menetapkan kebijak sa na -
an pemerintahan.
Konflik hori zontal antar -
penduduk dan ver tikal anta -
relite politik dalam sis tem
pemerintahan—mulai dari
kericuhan antarpenduduk de -
sa, antarpendukung partai po -
litik dan golongan dalam pe -
laksanaan pilkada, antar -
organisasi profesi intelaktual
para advokat dengan jaksa
agung, sampai pada heboh vi -
deo porno—telah menjadi ton -
tonan yang terbiasa di layar te -
levisi nasional ataupun swasta.
Dalam perjalanan sistem
pemerintah Islam yang dicon -
tohkan oleh Khalifah Umar
Ibnu Khattab, diceritakan bah -
wa Umar sering menyamar un -
tuk mengunjungi rakyatnya
pada malam hari. Ia mengon -
trol apakah ada rakyatnya
yang kelaparan. Jika ada rak -
yatnya yang sedang kelaparan,
U mar tidak segan-segan segera
membawa makanan dengan
tangannya sendiri.
Pada kisah lainnya, Kha -
lifah Umar berjalan pada te -
ngah malam berkeliling per -
kampungan untuk mengetahui
kondisi rakyatnya. Kemudian,
ia mendapati sebuah gubuk
reot dan terdengar suara tangis
anak-anak di dalamnya.
Dari celah gubuk reot itu, ia
melihat seorang ibu yang
tengah ber usaha menenangkan
anaknya yang menangis. Ru -
panya, anak tersebut menangis
karena ke laparan, sedangkan
sang ibu tidak memiliki apa
pun untuk dimasak malam itu.
Umar sangat sedih dan
merasa berdosa. Ditemani
pengawalnya, Umar pergi ke
gudang penyimpanan makanan
negara dan mengangkut sendiri
ka rung gandum itu.
“Izin kan lah saya yang akan
membawa dan memanggul
gan dum itu,” pinta sang penga -
wal. “Biarlah saya yang meng -
angkat dan memanggul gan -
dum ini. Ini adalah tanggung
jawab saya. Saya akan me -
nebus dosa-dosa saya yang
telah menyeng sara kan rakyat,”
ujar Umar.
Lain lagi dengan sistem
pemerintahan khalifah Umar
bin Abdul Azis yang sukses
dalam mengelola harta dan
kekayaan negara saat menjadi
khalifah. Tindakan pertama
yang dilakukannya adalah me -
ngembalikan harta kekayaan
ne gara hasil penyitaan dari pe -
nguasa pendahulunya. Harta
sitaan itu dia kembalikan ke
pemiliknya yang sah, baik pe -
milik individu maupun pe milik
lem baga negara.
Harta berge rak dan tidak
bergerak yang di miliki secara
tidak sah oleh para penguasa
terdahulu di ram pas dan
dikembalikan ke kas negara
(bait al-mal). Se be lum mela -
kukan itu, dia mem beri teladan
dengan menyerah kan semua
harta yang “dia ni lai bukan
miliknya”, termasuk cin cin
hadiah Khalifah Al-Walid ke
kas negara.
Sebagai pemimpin, kita
semua patut memohon per -
lindungan kepada Allah SWT,
terutama dari segala bentuk
ke munafikan, yang akan di -
minta pertanggungjawaban di
hadapan Allah SWT di Yaumil
Akhir kelak.
Semoga kita tidak termasuk
orang-orang yang di sinyalir
oleh Nabi Muhammad SAW
dalam salah hadis yang diri -
wayatkan oleh At Tabrani.
“Akan datang sesudahku peng -
uasa yang memerintah kalian.
Di atas mimbar mereka
memberi petunjuk dan ajaran
dengan bijak. Tapi, setelah
turun dari mimbar, mereka
melakukan tipu daya dan
pencurian. Hati mereka lebih
busuk dari bangkai.”

Oleh Dr Ahmad Sumargono
Direktur Eksekutif Pusat Kajian
Strategi Politik dan
Pemerintahan/PKSPP
(Republika 6 Agustus 2010 halaman 4)